Internet 6G Dikembangkan: Keunggulan dan Kelemahan yang Perlu Diketahui

Antar Papua

Antarpapua.com –  Para peneliti sedang mengembangkan jaringan telekomunikasi 6G pertama di dunia, yang diklaim akan seribu kali lebih cepat dari jaringan 5G, standar komunikasi seluler tercanggih saat ini, menurut Global System for Mobile Communication (GSMA).

Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal IEEE Open Journal of Antennas and Propagation memperkenalkan inovasi antena yang bisa menjadi dasar bagi perangkat jaringan 6G. Masood Ur Rehman, dosen senior di Universitas Glasgow, Skotlandia, menyatakan bahwa desain antena frekuensi tinggi yang cerdas dan adaptif ini dapat menjadi fondasi teknologi antena mmWave generasi berikutnya yang dapat dikonfigurasi ulang.

Para peneliti menciptakan antena metasurface dinamis (DMA) yang dikendalikan oleh prosesor miniatur berkode digital (FPGA). Prototipe ini, sebesar kotak korek api, adalah antena pertama yang bekerja dengan sinyal 6G dalam pita gelombang milimeter (mmWave) 60 GHz. Antena ini dapat digunakan untuk aplikasi industri, ilmiah, dan medis.

Salah satu fitur utama dari antena ini adalah beamforming, yang memungkinkan pemfokusan arah sinyal 6G ke perangkat tertentu, meningkatkan keandalan dan kecepatan sambil mengurangi kebutuhan daya dalam hitungan nanodetik. Elemen ‘metamaterial’ yang digunakan dalam antena ini dirancang untuk beresonansi pada frekuensi sekitar 60,5 GHz tanpa sirkuit yang rumit.

Meskipun demikian, masih ada tantangan dalam menyediakan jaringan 6G, seperti kesulitan mendapatkan sinyal di dalam gedung. Antena baru ini dirancang untuk mendukung jaringan Internet of Things (IoT) dalam ruangan 60 GHz dengan tingkat transmisi tinggi dan throughput data yang besar.

Spesifikasi akhir dari jaringan 6G diharapkan akan selesai pada tahun 2028, dengan peluncuran komersial untuk publik pada awal tahun 2030. Peneliti juga menyatakan bahwa perangkat ini akan memiliki dampak besar pada kemajuan komunikasi, penginderaan, dan pencitraan.

Menurut peneliti, penginderaan melalui 6G menggunakan sifat gelombang radio untuk mendeteksi objek secara real-time, dengan potensi aplikasi seperti penanganan pasien di rumah sakit dan penentuan jalur mobil otonom, termasuk penciptaan model holografik 3D.

“Kami berencana untuk menyempurnakan desain sehingga antena menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dan kinerja yang lebih serbaguna, menjadikannya komponen kunci dalam lingkungan IoT dan kota pintar yang mendukung 6G,” ujar Masood. (*/cnnindonesia.com-Antarpapua.com)

Cek juga berita-berita Antarpapua.com di Google News