Pengurus PPI Mimika Dilantik

  • Bagikan
Foto bersama ketua dan pengurus serta anggota PPI yang baru saja dilantik. (Foto: Itha/Antarpapua.com)

Timika, Antarpapua.com – Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Mimika, melangsungkan pelantikan kepengurusan periode 2024-2029.

Acara ini dilaksanakan di aula SMA Negeri 1 Mimika Jalan Yos Sudarso, Sabtu (03/02/2024).

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Daerah, Perwakilan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Perwakilan dari Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mimika, dan seluruh anggota Paskibraka yang akan dilantik untuk menjalankan tugas dalam waktu tertentu.

Ketua Pengurus Provinsi PPI, Yopi Amos Bonay mengatakan, pelantikan pengurus kabupaten yang nantinya bekerja membawahi Kabupaten Mimika.

Purna Paskibraka Indonesia menyiapkan anak-anak muda untuk bisa menjadi pemimpin hebat di hari esok. Melalui wadah ini, anak-anak tingkat SMA akan dibentuk, dibina, mengenai disiplin, etika, dan moralnya, serta memperdalam wawasan kebangsaan.

“Saya selalu mengatakan bahwa anak-anak yang sudah memilih organisasi PPI adalah langkah yang benar. Jadi saya tidak pernah berhenti untuk mengajak anak-anak muda, khususnya yang ada di Timika, yuk, gabung di purna Paskibraka,” tambahnya.

Yopi juga mengingatkan, bahwa Paskibraka bukan hanya berbicara tentang baris berbaris, melainkan harus berdampak positif bagi masyarakat. Paskibraka juga harus memiliki karakter dan kedisiplinan.

PPI sekarang ini memiliki program-program yang nantinya bisa berguna dan membantu pemerintah, seperti program penanaman pohon, pembersihan lingkungan, kepedulian terhadap sesama atau orang yang membutuhkan.

Selain itu, seorang Paskibraka harus tahu cara bersikap seperti apa di tengah masyarakat.

Saat ditanya mengenai respons pemerintah, Yopi mengatakan, bahwa sejauh ini pemerintan dari tingkat provinsi hingga kabupaten sangat mendukung mengenai organisasi ini.

“Tentu, pemerintah sangat mendukung. Karena kalau sampai tidak ada wadah-wadah yang seperti ini, anak-anak bisa bergaul dengan dunia yang bukan seharusnya untuknya. Mereka menjadi tidak tahu apa itu perjuangan, sejarah, dan pentingnya wawasan kebangsaan,” pungkasnya.

(Penulis : Itha | Editor : Sianturi)

  • Bagikan