Rayakan HPN ke-78, PWI Gelar Konvensi Nasional, Bahas Penggunaan Artificial Intelegence Oleh Media

  • Bagikan
Suasana pelaksanaan Kovensi Nasional Media merayakan HPN ke-78 di Econvention Hall Ancol, Jakarta Utara, Senin (19/02/2024). (Foto: SIANTURI/ANTARPAPUA.COM)

Jakarta, Antarpapua.com– Merayakan Hari Pers Nasional (HPN) ke-78 Tahun 2024, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, menggelar Konvensi Nasional Media Massa dengan tema “Pers mewujudkan demokrasi di era digital” di Econvention Hall, Jakarta Utara, Senin (19/02/2024).

Tampil sebagai pembicara adalah Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Wamen Kominfo, Nezar Patria, juga Abdul Aziz dari Detik.Com, Abie Besman dari Kompas serta Yadi Hendriana, selaku Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers.
Konvensi ini diikuti para pengurus DPD PWI Provinsi se-Indonesia dan sejak Sabtu lalu (17/02/2024), berbagai kegiatan sudah dilakukan panitia.

Nezar Patria, Wamen Kominfo membawakan materi dengan tema “Masa depan Pers di Tengah Disrupsi Teknologi” antaralain menjelaskan, ada perubahan yang besar akibat teknologi di media secara frontal.
Media lokal mulai bangkit dan punya peran yang signifikan dan juga kampanye global, namun semakin ke sini semakin bersifat pribadi. Kemudian muncul media sosial yang kemudian menghancurkan media.
“Media yang tadinya dikuasai media mainstream kini dikuasai oleh media sosial. Jadi semakin terkoneksi dengan media sosial, dengan platform, media-media semakin tertinggal,”ujarnya.
Media juga katanya sudah mengalami revolusi dan kini penggunaan Artificial Inteligence (AI) dan makin dilirik sejak lima tahun terakhir.

Baca Juga |  Pemkab Mimika dan PTFI Teken MoU Untuk Operasional RS Waa Banti

“Eksplorasi soal ini tetap berkembang dalam proses produksi dan distribusi berita,”paparnya.
AI saat ini semakin mengalami balapan di abad 21 menuju ke abad 22.
“Komputer sudah banyak memecahkan masalah, yang dikondisikan oleh keadaan,”ungkap Wamen .
Sedangkan materi Jurnalisme di Persimpangan Jalan, Abdul Aziz dari Detik.Com mengatakan penggunaan AI masih baru diperkenalkan.
“Kita masih melihat apakah AI sudah berguna saat ini,l atau mungkin ke depan ya,”katanya memulai.
Saat ini katanya, sebanyak 902 media susah tervferivikasi dari 1.812 media. Indonesia saat ini berada di urutan 9 paling aktif di media sosial. Dan menurutnya, media online masih media paling terpercaya, sehingga pemilik media bisa berbangga.

“Media online juga saat ini berkompetisi dengan Google,”ungkapnya.

“Kompas dimana saat ini, salah belok kita bahaya,”ujar Abi Besman dari Kompas memulai materinya.
Dijelaskannya, dunia saat ini berubah dan tidak akan bisa dihalangi oleh siapapun. Dalam jurnalistik, kecerdasan buatan bukanlah otomatisasi. Namun telah terjadi perkawinan antara manusia dan mesin dalam jurnalisme.

“Namun kebijakan dan pengetahuan lokal masih tetap ada. Proxymity atau kepentingan dalam media memiliki dinamika dan hal itu harus dinamis.

Yadi Hendriana, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers menjelaskan, banyak kasus Pers dalam pemanfaatan teknologi saat ini.
Kata dia, media profesional banyak mengutip media sosial tanpa ada verifikasi. Juga menjadikan media sosial sebagai sumber pemberitaan dan pembuatan berita dengan teknologi AI, tanpa melakukan verifikasi.

Baca Juga |  Wapres Apresiasi Kolaborasi Multihelix Jangkau Masyarakat Yang Tidak Dijangkau Pemerintah

“Prinsip utama pers adalah menegakkan nilai-nilai demokrasi dengan tepat dan akurat sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pers harus melihat publik dimana membutuhkan informasi yang benar dan tepat,”paparnya.
“Proses verifikasi tidak bisa dilakukan oleh AI dan manusia yang harus melakukannya,”sambung Hendriana.
Ditambahkannya, AI bisa digunakan untuk meningkatkan efisiensi. namun untuk produksi dan distribusi berita tetap kuncinya ada pada manusia.

Acara pada sesi ini ditutup dengan diskusi, dan para peserta menanyakan berbagai topik kepada para narasumber.

(Penulis : Bas | Editor : Redaksi)

  • Bagikan